Minggu, 28 Juni 2015

" ALFIN BISA "

Penulis: bepe, 28 June 2015
 
Hari ini Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) akan kembali melakukan kegiatan solidaritas yang ditujukan untuk sesama pesepakbola di Indonesia. Bertempat di lapangan Simprug (Pertamina), kali ini untuk pemain Persija Jakarta, dan juga tim nasional Indonesia Alfin Tuadalamony.

Acara bertajuk "Alfin Bisa" ini adalah kelanjutan program #SolidaritasPesepakbola dari Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia. Sebelumnya kita juga pernah membuat acara solidaritas serupa untuk Almarhum Akli Fairuz dari Persiraja Banda Aceh.

Untuk acara solidaritas pesepakbola kali ini kita menggandeng produsen olahraga Specs, Munial Sport Group Management, dan juga Dompet Duafa. Tujuannya agar efek dari gerakan solidaritas ini menjadi lebih terasa, dan hasilnya juga menjadi lebih maksimal.

#SolidaritasPesepakbola sendiri adalah sebuah acara penggalangan dana yang dilakukan oleh para pesepakbola di Indonesia, dengan tujuan untuk membantu sesama rekan seprofesi yang kebetulan tengah mengalami kesulitan.

Saat ini sebenarnya banyak sekali pesepakbola yang tengah mengalami permasalahan ekonomi di negeri ini. Hal tersebut berkaitan dengan berhentinya segala aktifitas kompetisi di Indonesia.
Kami memilih Alfin Tuasalamony karena melihat kondisinya yang serba terbatas, dalam menjalani proses penyembuhan dari cedera serius yang menimpanya (patah kaki). Hal tersebut berkaitan dengan hak-haknya sebagai pesepakbola yang sampai saat ini belum diselesaikan oleh klubnya.
Terlebih lagi melihat kurangnya perhatian dari pihak-pihak yang seharusnya turut serta membantu, dan mengawal proses penyembuhan cederanya. Mengingat status Alfin sendiri selain sebagai pemain Persija Jakarta, adalah juga pemain tim nasional Indonesia.

Alfin adalah contoh nyata terlalu sibuknya para stakeholder sepakbola kita dalam berseteru memperjuangkan kepentingan masing-masing. Sehingga lupa, dan lalai terhadap salah satu aset masa depan sepakbola Indonesia yang dalam hal ini membutuhkan support, baik secara material maupun spiritual.



Gerakan ini adalah wujud nyata rasa solidaritas para pesepakbola kepada rekan seprofesi yang tengah mengalami musibah. Dahulu kita melakukan gerakan ini untuk Almarhum Akli Fairuz, kali ini untuk Alfin Tuasalamony. Kedepan tidak menutup kemungkinan kita akan melakukan gerakan serupa untuk pesepakbola lain yang sedang mengalami musibah.

Didasari dengan niat yang baik, semoga acara #SolidaritasPesepakbola sore ini diberikan kelancaran oleh Allah SWT, sehingga dapat memberikan dampak, dan juga hasil yang maksimal.

Akhir sekali, semoga acara ini juga dapat membuka hati mereka-mereka yang saat ini tengah berseteru, memperjuangkan apa yang bisa jadi sebenarnya tidak mereka pahami.

Selesai ...

Terima Kasih PSSI

Penulis: bepe, 17 June 2015
Sanksi administrasi yang diberikan Menpora kepada PSSI, membuat organisasi sepakbola tertinggi di Indonesia ini tidak lagi mampu untuk menjalankan roda kompetisi. Berhentinya liga mengakibatkan klub-klub kehilangan pemasukan. Imbasnya klub kesulitan untuk membayar gaji pesepak bola nya, dan para pesepak bola pun kehilangan mata pencaharian. 
Apakah ada yang salah dengan pernyataan tersebut diatas? sama sekali tidak, dan memang benar demikianlah adanya.
Namun ketika hilangnya penghasilan pesepak bola yang dijadingan alasan utama, agar pemerintah segera mencabut sanksi administratif yang telah dijatuhkan kepada PSSI, kok rasanya saya kurang sepaham. 
Pernyataan yang berisi, sanksi Menpora lah yang membuat kompetisi berhenti, sehingga klub-klub tidak lagi mampu membayar gaji para pesepak bola, tidaklah salah, hanya saja sedikit kurang pas. 
Mungkin lebih pas nya begini. "Tidak disanksi pemerintah sehingga kompetisi dapat berjalan normal saja, klub-klub masih sering kesulitan untuk membayar gaji pesepak bola, apalagi kok sekarang disanksi".
Secara pribadi saya merasa terharu melihat PSSI sebagai induk organisasi sepakbola tertinggi di Indonesia, saat ini begitu getol "memperjuangkan" hak-hak hidup para pesepak bola. Namun saya juga harus jujur, jika diantara rasa haru tersebut terselip pula rasa aneh, juga khawatir
Aneh dan khawatir karena apa? 
Aneh karena:
Bukankan federasi juga yang selama beberapa tahun terakhir ini melakukan"pembiaran" terhadap klub-klub yang dalam beberapa kesempatan menunggak hak-hak para pesepak bola nya?
Bukankah federasi juga yang selama ini memberikan "toleransi" kepada beberapa klub untuk dapat terus berkompetisi, padahal kewajiban klub tersebut terhadap pesepak bola nya belum selesai?
Khawatir karena:
Jangan-jangan ketika nantinya perjuangan mengatasnamakan hak-hak pesepak bola ini berhasil, federasi lupa terhadap esensi dari apa yang mereka perjuangkan saat ini.
Jangan-jangan ketika nantinya sanksi itu benar-benar dicabut, sehingga PSSI kembali aktif dan dapat menggelar kompetisi, hak-hak pesepak bola dalam perjalanannya tetap saja tidak terlindungi.
Kekhawatiran yang saya pikir wajar, mengingat sebagai wakil presiden Asosiasi Pesepak bola Profesional Indonesia (APPI), saya tentu ingat betul bagaimana perjalanan para pesepak bola Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Hal tersebut yang membuat saya begitu berhati-hati dalam menyikapi konflik yang terjadi saat ini.
Bagaimana saya dapat serta-merta sepaham dengan "perjuangan" federasi yang mengatasnamakan penderitaan pesepak bola, wong selama ini kami jelas-jelas berhadapan dengan "mereka" dalam memperjuangkan hak-hak para pesepak bola profesional di Indonesia.
Sekali lagi saya sampaikan, jika saya tidak sedang dalam posisi untuk bersepaham dengan pihak manapun. Saya hanya ingin mengingatkan, bahwasanya dasar dari apa yang diperjuangkan oleh klub dan federasi saat ini, memiliki konsekuensi pertanggungjawaban yang tidak ringan.
Jika klub dan federasi paham betul dengan apa yang sedang mereka perjuangkan, maka sejatinya mereka juga harus siap, dan rela untuk melakukan instropeksi kedalam jajaran mereka sendiri. 
Artinya jika nantinya perjuangan mengatasnamakan hak hidup orang banyak (pesepak bola) ini berhasil, maka hal-hal yang bertentangan dengan apa yang saat ini sedang mereka perjuangkan, dimasa yang akan datang tidak boleh terjadi lagi.
Aturan mengenai verifikasi peserta kompetisi mau tidak mau harus benar-benar ditegakkan. Tidak boleh lagi ada toleransi, atau perlindungan kepada klub-klub yang menunggak gaji pesepak bola nya. Tidak ada lagi tindakan "menutup mata" atau bahkan "intimidasi" kepada para pesepak bola yang memperjuangkan hak-haknya.
Serta satu hal lagi, pengakuan terhadap asosiasi pesepak bola profesional di Indonesia. Mengapa? karena pada akhirnya toh kita sepaham (setidaknya untuk saat ini) jika hak-hak para pesepak bola memang harus dilindungi. 
Jika federasi tidak mampu melakukan apa yang tersebut diatas. Maka jangan salahkan masyarakat, jika pada akhirnya melihat PSSI sebagai sebuah organisasi yang hanya memanfaatkan "amanat penderitaan pesepak bola" sebagai alat bargaining untuk menyelamatkan organisasi.
Mengapa demikian? Karena saat ini banyak sekali suara-suara sumbang diluar sana yang bertanya-tanya, kemana saja klub dan federasi saat pesepakbola "kleleran" memperjuangkan hak-haknya, kok tiba-tiba saat ini berjuang agar sanksi dicabut, dengan dalih sanksi membuat para pesepakbola kehilangan penghasilan?
Sebuah pertanyaan yang saya pikir hanya dapat mereka jawab dengan perbaikan kedalam, dan bukti kinerja positif, serta lebih profesional dimasa yang akan datang. 
Semoga klub dan federasi paham betul dengan konsekuensi dari apa yang mendasari perjuangan mereka saat ini. Sehingga kedepan tata kelola persepakbolaan kita menjadi lebih baik, serta lebih profesional dalam segala hal. Agar cabang olahraga yang paling digemari di republik ini, mampu memberikan prestasi yang dapat dibanggakan.
Jika hal tersebut benar-benar terjadi, maka secara pribadi saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PSSI.
Selesai....
#salamBepelovers20

Bambang Pamungkas dkk Gelar Laga Amal Bertajuk " ALFIN BISA "

Di saat federasi sepak bola Indonesia PSSI sibuk berseteru dengan Kemenpora, nasib para pesepak bola yang butuh uluran tangan pun tak terjangkau. Klub yang semula mengontraknya pun acuh tak acuh.
Kondisi demikian dialami Alfin Tuasalamony, pemain Persija Jakarta yang tengah membutuhkan biaya operasi patah kaki akibat kecelakaan.
Manajemen tim hanya menggelontorkan dana sebesar Rp 5 juta, sementara total biaya operasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp 300 juta.
Keprihatinan justru datang dari para pelaku sepak bola itu sendiri. Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) bersama Specs dan Dompet Dhuafa menggagas laga amal untuk mengumpulkan dana tambahan bagi Alfin.
Laga amal ini bakal dikemas melalui format turnamen segitiga bertajuk "Trofeo Charity Matches Alfin Bisa". Sebanyak tiga tim peserta yang tergabung dalam APPI All Stars, Dompet Dhuafa All Stars, dan Specs All Stars bakal bertanding pada Minggu (28//2015). Panitia penyelenggara masih mengurus izin penggunaan salah satu lapangan di Jakarta.
"Acara Alfin Bisa ini adalah kelanjutan program solidaritas pesepak bola dari APPI. Sebelumnya kami pernah membuat acara solidaritas serupa untuk Almarhum Akli Fairuz dari Persiraja," kata Bambang Pamungkas selaku Wakil Presiden APPI.

Kali ini APPI menggandeng Specs dan Dompet Duafa untuk memperluas jaringan demi mencapai dana maksimal. Ini merupakan wujud nyata solidaritas para pesepak bola kepada rekan seprofesi yang tengah mengalami musibah.
Kondisi keuangan Alfin cukup memprihatinkan mengingat haknya selama kurang dari empat bulan belum dibayarkan Persija. Manajemen pimpinan Ferry Paulus itu hanya mampu membayarkan 30 persen gaji dari sebulan gaji.
"Kami melihat kondisi Alfin yang serba terbatas dalam menjalani proses penyembuhan. Terlebih lagi kurangnya perhatian dari pihak-pihak yang seharusnya turut membantu dan mengawal proses penyembuhan. Mengingat status Alfin adalah pemain tim nasional," ujar Bepe, sapaan akrab Bambang Pamungkas.
Kapten Macan Kemayoran itu juga menegaskan, kondisi memprihatinkan yang dialami Alfin menjadi bukti nyata kesibukan para pejabat sepak bola Tanah Air (PSSI dan Kemenpora) yang lebih mementingkan perebutan kekuasaan.

#salamBepelovers20

Rabu, 08 April 2015

" Tiga Senjata Favorit Bambang Pamungkas "

Penulis: bepe, 06 April 2015
Hotel Grand Mahkota, Lamongan, 6 April 2015.
Empat tahun terakhir sejak menjadi Executive Comittee Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia, praktis kesibukan saya menjadi sedikit meninggkat. Utamanya menjelang akhir hingga kompetisi musim baru digelar. Hal tersebut dikarenakan banyaknya permasalahan sepakbola yang berkaitan dengan para pemain profesional di Indonesia.
Segala permasalahan yang selama kurun waktu empat tahun terakhir selalu saja hadir menghiasi persepakbolaan negeri ini.
Tugas asosiasi pemain adalah menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi para pemain profesional. Baik mereka yang berani dan secara terang-terangan menyaku menjadi anggota. Maupun mereka yang tidak cukup berani menjadi anggota, namun berharap mendapatkan keuntungan dari apa yang asosiasi pemain perjuangkan.
Pertemuan-pertemuan penting dengan para stakeholder sepakbola di negeri ini menjadi sesuatu yang rutin saya dan rekan-rekan pengurus APPI lakukan. Demikian halnya beberapa bulan terakhir ini. Bertemu dengan Menpora, Tim Sembilan (Kemenpora), BOPI, PSSI, Perwakilan Klub, Pengacara, Exco APPI dan juga para pemain membuat hari-hari saya menjadi sedikit terlalu serius.
Hal yang memaksa saya untuk sementara waktu harus melupakan kebiasaan saya, yaitu menulis di blog. Setelah kurang lebih tiga bulan absen menulis, malam ini ditemani lagu-lagu group band lawas asal Amerika Creedence Clearwater Revival akhirnya saya pun membulatkan tekad untuk kembali membuat coretan.
Empat atau lima bulan terakhir keseharian saya dapat dikatakan sedikit terlalu serius. Terlalu banyak aktivitas-aktifitas yang membuat saraf-saraf saya menjadi kaku. Oleh karena itu pada tulisan kali ini, saya ingin membahas sesuatu yang lebih santai, tidak terlalu berat, dan jauh dari apa itu yang namanya serius.
Kali ini saya ingin membahas mengenai senjata. Hmmm tenang-tenang. jangan terpancing untuk menjadi serius dulu. Senjata yang saya maksud bukanlah senjata tajam, atau bahkan senjata api. Senjata yang saya maksud adalah sepatu, iya sepatu sepakbola yang bagi para pesepakbola adalah sebuah senjata utama yang maha penting.
Selama dua puluh puluh tujuh tahun mengenal dan memainkan olahraga ini, sudah barang tentu saya telah merasakan mencoba begitu banyak sepatu sepakbola. Mulai dari yang berbahan kulit, sintetis, maupun perpaduan diantara keduanya.
Empat belas dari dua puluh tujuh tahun tersebut memang saya habiskan bersama salah satuapparel ternama dari Amerika. Namun demikian hal tersebut tidak serta-merta membuat saya tidak mencoba beberapa model senjata dengan merek-mereka yang lain.
Dan dibawah ini adalah tiga jenis senjata yang menjadi favorit saya selama ini:

1. Adidas Predator Touch

Kita mulai dengan yang pertama. Adidas Predator Touch. Sepatu ini diproduksi pada tahun 1996 oleh produsen alat-alat olahraga Adidas asal Jerman. Awal mula saya tertarik menggunakan sepatu ini adalah karena idola saya. Iya karena Paul Gascoigne, ia menggunakan sepatu ini selama gelaran Piala Eropa 1996 di Inggris.
Kombinasi warna merah, putih dan hitam khas Adidas yang dipadu padan dengan ornamen karet menyerupai sisik buaya di bagian depan, membuat sepatu ini memiliki kesan garang. Saya membeli sepatu ini untuk kali pertama di Singapura, sepulang memperkuat tim nasional pelajar asia di Asian School Tournament di Patna, India.
Adidas Predator Touch ini saya gunakan antara tahun 1996 hingga 1998, sebelum pada akhirnya saya menanda tangani kontrak dengan produsen apparel Nike dari Amerika.
Sepatu model ini memiliki dua jenis pul (stud), satu berbentuk bulat dan, satu lagi berbentuk pipih (blade). Saya memilih yang berbentuk buat, menyesuaikan jenis kontur permukaan lapangan di Indonesia yang ketika itu biasanya agak keras.
Ada cerita menarik mengenai sepatu ini. Pada suatu ketika saking bangganya dengan sepatu ini, saya bahkan sering kali menggunakan sepatu ini untuk pergi ke sekolah. Ketika itu saya duduk di bangku kelas 2(C) di SMA Negeri 1 Salatiga.
Hal bodoh yang mengakibatkan beberapa pul Adidas Predator touch tersebut patah. Sepatu itu sendiri akhirnya hilang dicuri orang, saat tengah saya jemur di genteng belakang asrama Diklat Salatiga. Sampai dengan saat saya menulis artikel ini, saya tidak pernah tahu siapa gerangan si pencuri sepatu Adidas Predator Touch kesayangan saya tersebut.
Baru-baru ini Adidas membuat kembali versi remake dari sepatu predator ini, namun sangat susah untuk mendapatkan nya. Belum lagi dengan ukuran kaki saya yang tergolong kecil untuk ukuran kaki eropa, sehingga sangat susah untuk mendapatkan sepatu-sepatu dengan versi-versi limited edition.

2. Nike Mercurial 1.0 R9

Berikutnya adalah Nike Mercurial 1.0 R9. Sepatu ini adalah generasi pertama Nike Mercurial yang terinspirasi oleh sosok pesepakbola fenomenal asal Brazil bernama Luis Nazario de Lima, atau lebih kita kenal dengan nama Ronaldo.
Dari model pertama hingga yang terakhir, Mercurial 1.0 R9 boleh adalah favorit saya. Sepatu ini memiliki warna dasar hitam dengan kombinasikan garis menyerupai gelombang ombak berwarna putih. Sepatu ini termasuk generasi pertama sepatu-sepatu sepakbola yang menggunakan bahan dasar kulit sintetis.
Dalam rangka merayakan ulang tahun ke-10 Mercurial, Nike sempat memproduksi ulang sepatu ini. Sepatu yang diproduksi terbatas tersebut diberi nama Nike Mercurial Vapor III R9 10th Anniversary. Sepatu tersebut ludes terjual dalam waktu yang cukup singkat.
Di ulang tahun Mercurial yang ke 15, Nike kembali me-reproduksi sepatu ini. Kali ini berwarna kombinasi biru, silver dan kuning dengan nama Nike Mercurial Vapor lX SE 15th Anniversary. Penampakan sepatu ini sama persis dengan Mercurial R9 yang digunakan Ronaldo saat membela Brazil di Piala Dunia 1998. Sama seperti edisi ulang tahun ke-10, sepatu ini juga laris manis terjual dalam waktu singkat.
Sejujurnya perjalanan serta pencapaian saya dalam berkarir tidak dapat dipisahkan dari sepatu Nike jenis Mercurial ini. Selama empat belas tahun menjadi brand ambassador Nike Mercurial, sudah barang tentu saya selalu menjadi pemain Indonesia pertama yang mencoba, dan menggunakan setiap keluaran terbaru sepatu Nike jenis Mercurial ini. Dari mulai Mercurial R9 hingga ke Mercurial Vapor CR7.
Lebih spesial lagi, Nike Mercurial 1.0 R9  adalah sepatu yang saya gunakan saat menjalani debut, serta mencetak gol pertama saya bersama tim nasional Indonesia.

3. Asics Testimonial Light Nero

Kurang afdol rasanya jika membahas sepatu-sepatu sepakbola favorit tanpa memasukkan sepatu model klasik, atau yang terbuat dari bahan kulit. Sebelum maraknya sepatu-sepatu sepakbola berbahan dasar kulit sintetis atau rajutan benang merajai pasaran, hampir semua produsen sepatu sepakbola menggunakan kulit sebagai bahan dasar dari produk-produk mereka. Sekarangpun masih ada beberapa, namun jumlahnya sudah tidak begitu banyak lagi.
Saya mengawali perjalanan panjang karir saya pada tahun 1988 dengan sepatu berbahan dasar kulit ber-merek Foxy. Setelah Foxy saya juga sempat merasakan menyepak si kulit bundar dengan dibalut beberapa merek lain beberapa diantaranya Adidas, Lotto, Topper, Kika, Nike, Reebok, Diadora dsb.
Salah satu ciri khas sepatu-sepatu sepakbola dengan model klasik adalah memiliki lidah yang menjulur keluar diatas tali sepatu. Untuk sepatu-sepatu klasik ini ada beberapa model yang cukup meninggalkan kesan di hati saya. Beberapa sepatu tersebut adalah Lotto Stadio Classic, Nike Tiempo Premier 94, Diadora Brazil, dan Asics Testimonial Light Nero.
Diantara model sepatu yang saya sebut pada paragraf di atas, Asics Testimonial Light Nero adalah favorit saya. Sejujurnya saya mengenal sepatu ini karena terbawa euforia tim nasional Primavera, dan Baretti pada sekitar tahun 1995 an.
Pada masa-masa itu saya pikir semua pecinta sepakbola di tanah air memperhatikan kiprah dari kedua tim tersebut. Terutama tim Primavera yang ketika itu digawangi pemain-pemain harapan masa depan seperti Kurniawan D.J, Bimasakti, Indriyanto, Kurnia Sandy dkk.
Pada masa itu hampir semua tim nasional Indonesia dari level usia dini hingga senior menggunakan apparel bermerek Asics. Hal tersebut membuat Asics begitu terkenal di Indonesia. Salah satu yang paling fenomenal adalah Asics Testimonial Light Nero, karena hampir semua pemain tim nasional Indonesia ketika itu menggunakan sepatu dengan merek dan model tersebut.
Kelebihan sepatu ini adalah kenyamanan. Dan untuk sepatu sepakbola berbahan dasar kulit, Asics Testimonial tergolong lebih ringan dibanding dengan merek-merek yang lain. Hal tersebut yang membuat sepatu ini banyak digemari para pesepakbola Indonesia ketika itu.
Saya pertama kali menggunakan sepatu ini pada tahun 1997, dan menggunakannya kembali pada tahun 2004 saat terjadi jeda dalam kontrak panjang saya bersama Nike. Pemain-pemain top dunia yang sempat menjadi brand ambbassador dari sepatu dengan merek ini diantaranya adalah Roberto Mancini, dan Alessandro Nesta.
Tiga sepatu sepakbola diatas adalah tiga senjata favorit saya selama berkarir di dunia sepakbola hingga saat ini. Saya selalu ingin mengulangi masa-masa dimana saya menggunakan sepatu-sepatu tersebut. Namun sayang diantar tiga sepatu tersebut hanya Asics Testimonial Nero Light yang masih diproduksi, itupun sangat susah untuk mendapatkannya.
Sedang Adidas Predator Touch, dan Nike Mercurial 1.0 R9 sudah tidak diproduksi lagi. Adidas dan Nike memang sempat memproduksi dua sepatu tersebut, namun dalam jumlah yang sangat terbatas, sehingga sangat sulit untuk mendapatkannya.
Disaat kebersamaan sama bersama apparel Nike berakhir, sayapun kembali menggunakan salah satu dari tiga sepatu favorit saya tersebut, yaitu Asics Testimonial Light Nero. Termasuk ketika Persija Jakarta bertandang ke kandang Arema Cronus, sabtu 4 April 2015 yang lalu. Tiga gol yang bersarang ke gawang Kurnia Meiga malam itu saya cetak menggunakan sepatu model tersebut.
Tiga sepatu diatas adalah sepatu sepakbola favorit versi saya. Saya yakin rekan-rekan sekalian pasti memiliki sepatu sepakbola favorit versi anda masing-masing. Oleh karena itu silakan menyebutkan tiga sepatu favorit anda, saat me-retweet dan memberi komentar artikel ini melalui twitter. Terima kasih.
NB: Jika ingin melihat penampakan senjata-senjata favorit saya diatas, silakan mencarinya melalui google, dengan keywords nama sepatu-sepatu tersebut.
Selesai....

#Follow ; @BepeNews

3 Gol BP || Arema vs Persija (4-4) Highlights and Goals full || HD || QNB league

Follow : @BepeNews

GOL PERDANA QNB League || Freekick Mematikan Bambang Pamungkas ke Gawang Arema

Follow : @BepeNews

Fenomena Bambang Pamungkas

QNB League secara resmi dibuka, Sabtu (4/4/2015). Nama Bambang Pamungkas menjadi sendiri di laga pembuka tersebut. Tiga buah gol diceploskan Bambang ke gawang Arema Cronus. Bagaimana sebenarnya sepak terjang Bambang?

“Awas ada Bepe,” begitu kira-kira ungkapan yang wajib diwaspadai pemain-pemain semua klub di QNB League ketika pemain veteran itu mendekati area berbahaya. Lengah sedikit saja, Bepe atau Bambang Pamungkas bisa menghadirkan mimpi buruk.
Drama hujan gol di Stadion Kanjuruhan kala Persija menantang Arema Cronus, Sabtu (4/4/2015) lalu menjadi saksi kehebatan Bepe belum habis dimakan usia. Dia menjadi bintang dalam laga berakhir imbang 4-4 itu.

Hattrik pemegang 83 caps di tim Garuda itu benar-benar membungkam ribuan Aremania yang berharap tim kesayangannya mendulang poin penuh di laga perdana QNB League.
Pelatih Arema Cronus Suharno pun dibuat geleng kepala setelah ambisinya mendulang poin penuh, buyar akibat penampilan cemerlang Bepe. Suharno mengaku begitu terpukul dengan kehadiran tiga gol dari kaki juru gedor Macan Kemayoran itu. Apalagi gol Bepe semuanya tercipta lewat eksekusi bola mati.

“Jika pemain fokus, tiga gol dari bola mati itu tidak akan terjadi,” kata Suharno saat memberi keterangan pers seusai pertandingan.
“Hasil ini bukan kesalahan pemain. Apalagi jika dikatakan kesalahan pemain belakang, Saya tidak setuju. Tim pelatih akan melakukan evaluasi total setelah pertandingan ini,” ujar Suharno menyesalkan hasil imbang yang diraih timnya.

Di usia 34 tahun, Bepe pantas dikatakan sebagai serdadu tua. Tapi kemampuannya tetap sejajar bahkan mungkin berada di atas rata-rata penyerang klub-klub di kompetisi kasta tertinggi nasional. Tak heran apabila, rekan setimnya, Ismed Sofyan, begitu memujanya. Ismed secara blak-blakan mengaku rekan setimnya itu tetap merupakan penyerang berbahaya di kompetisi Tanah Air.
Pelatih Rahmat Darmawan rasanya juga tidak sia-sia memboyong kembali pemain berpostur 170 sentimeter itu ke hadapan The Jakmania. Pemilik nomor abadi 20 di Persija itu telah membuktikan tak ingin berhenti untuk terus mengukir gol demi gol pada tim yang dia bela.
Musim lalu, dia juga membuktikan profesionalisme dan kehebatannya pembunuh di lini depan. Bepe mengukir dua gol pada debutnya bersama Pelita Bandung Raya. Hebatnya, dua gol itu dia ceploskan ke gawang tim yang membesarkan namanya, Persija Jakarta.

Selain tendangan kaki kiri, salah satu ciri khas Bepe adalah akurasi sundulan kepala. Jumping yang tinggi mengikis kelemahan postur tubuh mungil yang dia miliki.
Tak ayal, bek-bek lawan yang berpostur tinggi tegap pun kerap kalah duel udara.
Kecemerlangan Bepe sudah terbukti sejak musim pertamanya di percaturan sepak bola nasional. Bambang menjaringkan 24 gol pada musim pertamanya di Liga Indonesia walaupun tim yang diwakilinya Persija Jakarta gagal ke babak akhir. Saat musim tersebut berakhir, Bambang bergabung dengan sebuah tim Divisi Tiga Belanda, EHC Norad.

Namun masalah keluarga dan kegagalan dalam menyesuaikan diri dengan cuaca sejuk Eropa menyebabkan beberapa bulan setelah itu, EHC Norad meminjamkan Bambang kembali kepada Persija sebelum kedua-dua pihak mengakhiri kontrak atas persetujuan bersama.
Pada 2005 Bambang menandatangani kontrak dengan Selangor FC. Pada tahun itu dia menjadi pencetak gol terbanyak Liga Malaysia dengan 22 gol. Pada Musim 2007 ia kembali memperkuat Persija Jakarta di Liga Indonesia.
Pada 2010 ia hendak menjalani masa trial di Selandia Baru, klub Wellington Phoenix FC tetapi gagal untuk mengamankan kontrak.
Pada 9 Desember 2013, ia menandatangani kontrak berdurasi satu tahun dengan Pelita Bandung Raya. Dia mencetak dua gol debut bagi klubnya saat melawan Persija dan pertandingan berakhir dengan hasil imbang 2-2.

Penampilan pertama Bambang bersama Timnas senior adalah pada 2 Juli 1999 dalam pertandingan persahabatan melawan Lithuania. Bambang, yang saat itu baru berusia 18 tahun, berhasil menciptakan sebuah gol dalam pertandingan yang berakhir seri 2-2.

Pada tahun 2002, Bambang menjadi pencetak gol terbanyak dengan delapan gol dari enam penampilan sekaligus membantu Indonesia menjadi runner up Piala Tiger 2002. Pada 10 Juli 2007, ketika pertandingan Indonesia-Bahrain, ia mencetak gol, memastikan Indonesia menang 2-1.
Saat ini Bambang menjadi pemegang rekor penampilan terbanyak (caps) dan Top Skorer untuk Indonesia dengan 77 penampilan dan 36 gol sesuai dengan pertandingan katagori A FIFA. Tetapi jika mengikutkan pertandingan Non-FIFA (termasuk melawan Klub dan Tim Nasional U-23) maka penampilan Bambang adalah 88 dengan 42 gol.

Kendati masih bertaji sebagai pemain subur, Bepe memutuskan tidak ingin berkostum Timnas lagi. Pada 1 April 2013, dia menyatakan pensiun dari Timnas Indonesia.

Follow : @BepeNews