Penulis: bepe, 06 March 2016
Ferrasta Soebardi, atau kita lebih
mengenalnya dengan nama Pepeng, lahir di Sumenep, 23 September 1954.
Sosok yang cukup fenomenal dengan kuis jari-jari di tahun 90an tersebut,
meninggal dunia pada Rabu pagi, 6 April 2015 di Cinere, Depok, setelah
kurang lebih sepuluh tahun bertarung melawan Multiple Sclerosis (MS).
Multiple sclerosis (MS) merupakan penyakit autoimun yang menyerang
selubung pelindung (myelin) - zat lemak yang melapisi dan melindungi
serat saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Hal tersebut yang
membuat ayah empat anak ini mengalami kelumpuhan.
Mendengar kabar duka tersebut sejenak saya termenung, dalam termenung
saya teringat sesuatu. Sebuah janji, atau barangkali sebuah keinginan
lebih tepatnya, yang secara tidak langsung memiliki keterkaitan dengan
Alm. Mas Pepeng.
Saya sendiri tidak ingat apakah saya pernah bertemu secara langsung
dengan Mas Pepeng atau tidak, yang saya tahu saya cukup terinspirasi
dengan kisah hidup beliau. Terutama dengan kegigihannya dalam memaknai
hidup, selama perjuangannya melawan penyakit Multiple Sclerosis yang Ia
derita.
Janji atau keinginan yang saya sampaikan diatas, berawal dari seorang
sahabat yang kebetulan bekerja di salah satu stasiun televisi swasta.
Sahabat tersebut menghubungi saya dan menyampaikan amanat dari salah
seorang temannya, yang ingin mengundang saya untuk menjadi bintang tamu,
di sebuah acara
talk show di stasiun televisi swasta tempat sahabat saya tersebut bekerja.
Sebuah acara
talk show, yang boleh dikatakan berada di jajaran papan atas acara talk show pertelevisian di Indonesia.
Talk show
ini bersifat "serius" (bukan mengejar rating) dengan bintang tamu
tokoh-tokoh inspiratif di negeri ini, yang sangat kompeten di bidang nya
masing-masing.
Singkat cerita, dengan sehalus mungkin saya menolak tawaran untuk
menjadi bintang tamu di acara talk show tersebut. Seperti biasa
ketidaknyamanan saya untuk tampil di televisi, selain saat bermain
sepakbola menjadi alasan utamanya.
Kepada sahabat saya tersebut saya menyampaikan, jika diundang ke acara
talk show
"Ketemu Pepeng" (kebetulan juga tayang di stasiun televise tempat
sahabat saya bekerja) saya malah mau. Mendengar jawaban saya tersebut,
sahabat sayapun segera menghubungi produser acara "Ketemu Pepeng". Namun
sayang, ternyata acara tersebut telah berhenti diproduksi seiring
dengan kondisi kesehatan Mas Pepeng yang semakin menurun.
Saya bahkan menitipkan pesan kepada sahabat saya tersebut, agar
disampaikan kepada produser acara "Ketemu Pepeng". Jika suatu saat nanti
acara tersebut diproduksi kembali, mohon kiranya untuk dapat memasukkan
nama saya, dalam daftar bintang tamu di edisi pertamanya.
Berbeda dengan acara
talk show lain yang selalunya saya
tolak dengan halus, untuk acara "Ketemu Pepeng" saya malah mewarkan
diri. Hal tersebut tentu bukan tanpa alasan, alasan terbesarnya tidak
lain dan tidak bukan adalah karena saya sangat terinspirasi, dengan
sosok Mas Pepeng, terutama dengan bagaimana Ia merespon segala
permasalahan dalam hidupnya.
Sejak saat itu sayapun menunggu penuh harap. Dalam penantian, saya
selipkan sebuah doa, doa untuk membaiknya kondisi kesehatan Mas Pepeng.
Namun ternyata Yang Maha Kuasa berkehendak lain, penantian saya tersebut
berakhir seiring dipanggilnya Mas Pepeng oleh Sang Khalik.
Seperti yang rekan-rekan ketahui, selain sebagai pesepakbola saya
jugalah seorang penulis (bloger). Sebagai penulis saya tentu banyak
membaca buku, artikel, blog atau apapun yang menarik untuk dijadikan
referensi dalam menulis. Dan untuk diketahui, blog Mas Pepeng adalah
salah satu yang menjadi favorit saya.
Dalam blognya, pria yang pada Pemilu 2004 menjadi caleg PKS untuk
daerah pemilihan Madura ini, pernah berseloroh tentang penyakit
langkanya tersebut. Begini Ia menulis, “Saya bukan superhero, saya juga
sering menengadah dan bertanya pada Tuhan: Why me? Tapi Tuhan kemudian
melihat ke bawah dan menjawab: Why not?”.
Sebuah
joke yang mengingatkan kita tentang betapa kecil, dan tidak berdayanya kita dihadapan Sang Maha Pencipta.
Satu hal yang hampir selalu saya sampaikan dimanapun saya menjadi pembicara:
"Pada dasarnya setiap manusia itu sama, yang membedakan mereka
adalah reaksi setiap individu terhadap segala permasalahan yang datang
menghampiri. Hal tersebut yang akan mendiskripsikan siapa dia
sebenarnya".
Kisah hidup Mas Pepeng, saya pikir dapat menjadi gambaran ideal dari apa yang saya sampaikan diatas.
Bagaimana dalam lumpuhnya, Mas Pepeng tetap mampu untuk tetap berdiri tegak.
Dalam lumpuhnya ide, kreatifitas dan semangat Mas Pepeng tetap mampu
berjalan, berlari, bahkan bersorak untuk menyemangati orang lain.
Serta dalam lumpuhnya, Mas Pepeng tetap mampu memaknai hidupnya
dengan hal-hal yang positif, yang mampu memprovokasi dan menginspirasi
banyak orang.
Ketegaran, dan kegigihan Mas Pepeng dalam berjuang melawan segala
keterbatasannya, saya pikir membuat kita semua yang dalam kondisi lebih
sehat (termasuk saya) seharusnya malu.
Mas Pepeng mampu memberikan contoh nyata bagaimana,
"Hidup itu
bukan mengenai seberapa berat masalah yang datang menghampiri kita,
namun mengenai seberapa positif kita mampu merespon segala permasalahan
tersebut".
Karena pada akhirnya, setiap orang mempunyai sisi gelap (kekurangan)
dalam hidupnya. Namun hal tersebut tidak seharusnya menjadi sebuah
penghalang bagi kita, untuk dapat memaknai hidup kita.
Itulah Mas Pepang yang dalam pandangan saya mampu merespon segala
permasalahan yang ia hadapi dengan begitu positif, sehingga berhasil
mengejawantahkan motto hidupnya
"Pantang Mati Sebelum Ajal" dengan begitu indahnya....
Selesai....
editor : @ery_bepe20